Date:September 23, 2020

UNG Jadikan Pohuwato Sebagai Pencanangan Desa Tangguh Covid-19

UNG

READ.ID – Universitas Negeri Gorotalo (UNG) menjadikan Kabupaten Pohuwato sebagai wilayah pencanangan desa tangguh bencana nonalam Corona Virus Disease (Covid-19). Di antaranya Desa Teratai dan Karangetan.

Rektor UNG, Dr. Eduart Wolok, mengatakan dua desa tersebut selain akan berorientasi untuk membangun, mengorganisir, mengerakkan kemampuan dan potensi sumber daya alamnya; juga bakal didesain bagaimana menghadapi ancaman dari virus corona.

“Perihal desa tangguh, ekonominya pun harus tangguh. Mulai dari segi pengembangan ekonomi: potensi pertanian dan perikanan menjadi hal wajib yang mesti dikembangkan melalui pemberdayaan,” ujar Eduart.

Selain itu, Eduart menerangkan, terdapat banyak potensi yang ada di Kabupaten Pohuwato, yang jika dilihat melalui pendekatan geografis dan sosiologis, bisa kemudian mendatangkan wisatawan manca negara.

“Misalnya, trip yang dilakukan wisatawan ke Pulau Togean melalui Gorontalo itu, biasanya langsung nyambung perjalanan dengan kapal Ferry. Ada juga yang ke Luwuk, Ampana baru ke pulau Togean. Padahal, waktu tempuh dari kepulauan Togean ke Pohuwato melalui jalur laut, hanya dua jam,” kata Eduart, dari pendekatan geografis.

Selanjunya pendekatan sosiologis, lanjutnya, Kabupaten Pohuwato memiliki banyak desa yang kondisi masyarakatnya sangat heterogen, mulai dari agama, budaya dan identitas etnik.

“Kita mulai dari Banuroja, di mana telah menjadi simbol dan entitas desa yang multi etnis. Salah satu daerah yang menjadi tujuan kebanyakan wisatawan asing adalah wilayah yang multi etnik dan damai,” katanya.

Meskipun begitu, Eduart menjelaskan, dalam memanfaatkan potensi yang ada mesti didukung dengan adanya dana desa. Setidaknya, hal ini bisa kemudian mendorong desa untuk mengembangkan inovasi.

“Dana desa ini adalah bentuk pengakuan legal formal dari negara, bahwa organisasi desa itu merupakan otonom yang keberadaannya sangat penting. Pertanyaannya, apakah kita menjalankannya secara formalistik atau fungsional?” ujarnya.

Menurutnya, jika kemudian dijalankan secara fungsional, maka pemanfaatan dana desa harus menyentuh pengembangan kapasitas organisasi, di mana fungsinya ialah untuk mensejahterakan masyarakat.

“Agar pengelolaan dana desa bisa menyentuh aspek-aspek penting ini, maka perlu ada pendampingan. Pemanfaatan dana desa harus menyentuh dan menggerakan fungsi-fungsi penting yang ada di desa,” ungkap Eduart.

Pendampingan Desa

Menurut Eduart, dengan adanya pendampingan yang dilakukan UNG, maka desa harus ada perubahan. Pihaknya telah menyiapkan aplikasi Sistem Informasi Data Desa (Sideta) yang manfaatnya sangat besar bagi desa, di mana aplikasi tersebut menjadi bank data untuk setiap desa.

Dari sektor pendidikan, kata Eduart, bagaimana caranya suatu saat misalnya, lima tahun ke depan Gorontalo akan ada 100 ribu mahasiswa. Di mana bila angka ini bisa dicapai, maka relasinya berbuntut pada peningkatan dan kemandirian ekonomi.

“Kalau setiap desa ada 30 orang yang masuk Perguruan Tinggi, maka jumlah 100 ribu mahasiswa sudah bisa dicapai. Kalau jumlah itu akan dicapai dalam 4 tahun, maka berarti cukup dengan 10 orang yang kuliah setiap tahunnya,” ungkap Eduart.

Ia menambahkan, kalau ada 100 ribu mahasiswa yang kuliah di Gorontalo dengan 80 persennya adalah mahasiswa dari luar daerah, maka kurang lebih 2 triliun uang yang masuk di Gorontalo. (Adv/Aprie/RL/Read)