Date:November 26, 2020

Soal Pemain Keturunan Dan Naturalisasi, Indra Sjafri Dulu Menentang Kini Mendukung

READ.ID- Saat ini sudah ada empat pemain keturunan yang memperkuat Timnas U-19. Mereka ialah Jack Brown, Elkan Baggott, Kelana Noah, hingga Luah Fynn Jeremy Mahesa. Mereka pemain keturunan yang telah dicoba bermain oleh pelatih Shin Tae-yong.

Pelatih asal Korea Selatan ini mengaku masih terus mencari pemain keturunan. Sementara itu Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri, yang ketika menjadi pelatih timnas dengan tegas menolak pemain naturalisasi atau pemain keturunan, kini berubah sikapnya. Indra justru kini mendukung penuh langkah pelatih asal Korsel tersebut. Menurutnya saat ini memang sudah ada 30 pemain keturunan buat Timnas U-19 Indonesia yang akan diseleksi.

“Seperti yang beredar di media, kami mendengar itu semua. Karena memang pak Ketum memberikan arahan, semua pemain harus diserap. Baik itu informasi dari masyarakat atau media,” kata Indra Sjafri kepada awak wartawan.

“Ada 30 pemain keturunan yang kita lihat. Bagaimana cara melihatnya? Satu kita lihat cv. Lalu kita lempar ke bagian legal PSSI. Apakah secara undang-undang itu oke atau secara statuta FIFA memungkinkan,” kata Indra.

Selanjutnya kalau memungkinkan, menurut Indra Sjafri, PSSI akan melihat video pemain keturunan itu. Lalu semua tim pelatih akan berdiskusi, termasuk di dalamnya Shin Tae-yong yang menentukan pemain yang layak dicoba.

“Muncul 7 nama pemain keturunan. Tujuh nama itu kami lempar ke pak ketum, dan pak ketum memberikan sinyal silakan melakukan pendekatan. Dari 7 itu, 2 datang dari Jerman. Secara kualitas, biar coach Shin Tae-yong yang menjelaskan. Apakah terpilih atau tidak,” kata Indra.

Shin Tae-yong sebelumnya mengatakan kalau sebenarnya ada sembilan pemain keturunan yang sudah mengerucut. “Sebenarnya ada 9 pemain, sudah dibicarakan ke PSSI. Dari 9 pemain, 2 pemain sudah dicek di Kroasia,” ungkap STY.

Sementara itu Indra Sjafri ketika menjadi pelatih timnas tegas menolak naturalisasi. Selama ini saya sebenarnya orang yang anti naturalisasi. Tapi dalam konteks Piala Dunia, ini beda. Ini yang bersaing bukan Asia Tenggara,” ungkapnya.