Date:September 18, 2020

Polisi Bangun Masjid di Gorontalo Raih Penghargaan SUMO Foundation Awards 2020

Penghargaan Polisi

READ.ID – Seorang anggota polisi di Gorontalo Bripka Suparno Hamzah meraih penghargaan di ajang SUMO (Suharso Monoarfa) Foundation Awards Ke-4 yang digelar di Ball Room Hotel Dumhil Kota Gorontalo, Sabtu (15/08/2020) malam.

Penghargaan berupa sejumlah uang, piagam dan medali diserahkan langsung oleh Menteri PPN/Bappenas RI, Suharso Monoarfa kepada Bripka Suparno.

SUMO Foundation merupakan yayasan yang didirikan Menteri PPN/Bappenas untuk memberikan penghargaan kepada tokoh desa dan guru pejuang di Gorontalo yang berkontribusi memajukan daerah. Ajang ini sudah digelar sejak tahun 2008, 2010, 2012 dan 2020.

Pada pergelaran SUMO Foundation 2020, tokoh desa diberikan kepada Bripka Suparno Hamzah, Heriyanto Gobel dan Mukmin Badu, Irwan Tangio, Husain Wadipulu serta Bunairi. Sementara penghargaan guru pejuang diberikan kepada Kasmad Daud Saharia Mardia, Jatia Lahani, Herlina A. Laiya, Aisah Raima Kasim.

Anggota polisi Bripka Suparno masuk dalam salah satu dari 5 orang peraih penghargaan Kategori Tokoh Desa. Bripka Suparno (42 tahun) adalah seorang Polisi yang berinisiatif membangun Masjid di Desa Pangadaa, Kecamatan Dungalio, Kabupaten Gorontalo. Masjid tersebut dibangun dengan menyisikan gajinya sendiri.

Bripka Suparno

Bripka Suparno Hamzah

“Penghargaan Ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya dan semoga menjadi inspirasi bagi orang lain,” ujar polisi yang menjabat Kanit Binmas Polsek Bongomeme Polres Gorontalo itu.

Seperti diketahui, masjid yang dibangun polisi itu tidak seperti Masjid pada umumnya, karena konstruksinya didesain begitu unik, dimana dinding betonnya dilapisi bambu yang sudah di cat dan hanya sekadar beratapkan daun rumbia.

Menurut Bripka Suparno, lokasi yang saat ini telah di bangun sebuah Masjid berukuran 12×12 itu, awalnya adalah tempat orang-orang untuk berbuat segala macam jenis maksiat.

“Di sini kan ada bangunan untuk pendaratan helikopter. Sudah lama tidak dipakai lagi. Nah, tempat ini digunakan orang-orang untuk berkumpul dan mungkin telah menjadi lokasi maksiat,” kata Suparno saat diwawancarai Read.id beberapa waktu lalu.

Tidak hanya itu, desa yang kini telah telah berdiri sebuah Masjid yang memiliki nama Bambu An-Nur ini, kata Suparno, terkenal dengan desa yang sebagian masyarakatnya kerap membuat keributan, terlebih ketika itu sudah larut malam.

“Motivasinya saya adalah ingin merubah kebiasaan masyarakat di sini. Selain itu, lokasi Masjid yang agak jauh dari Desa Pangadaa adalah alasannya juga,” ungkapnya.

Polisi Bangun Masjid

Masjid Bambu An-Nur yang dibangun Bripka Suparno.

Masjid Bambu An-Nur mulai dibangun sejak Agustus 2019. Pembangunannya kurang lebih memakan waktu satu bulan. Suparno mengaku, selain dibantu dengan swadaya masyarakat setempat, ia pun menyisihkan sedikit gajinya untuk membangun Masjid tersebut.

“Awalnya ingin bangun Masjid ini di belakang rumah. Tapi masyarakat menyarankan untuk di bangun di belakang bangunan pendaratan helikopter ini saja,” tutur Suparno.

Selain itu, baik di halaman samping, depan dan belakang, kata dia, sengaja di didesain alami agar bisa menambah daya tarik jemaah untuk sholat di Masjid ini. Benar saja, Masjid tersebut di kelilingi beragam jenis bunga dan tanaman seperti rica dan jagung. Bahkan di belakangnya terdapat kolam yang memelihara ikan air tawar.

Selain uniknya konstruksi bangunan masjid dan beserta halamannya itu, di sebelah kanan Masjid di bangun sebuah pondok kecil yang menampung anak-anak untuk belajar mengaji.

“Ada sekitar 60 anak-anak yang setiap harinya belajar Iqro. Anak-anak ini berasal dari Kecamatan Dungalio dan Tibawa,” kata Suparno.

Mengaji

Bripka Suparno Hamzah saat mengajarkan Alquran kepada muridnya.

Suparno tidak sendiri membelajarkan anak-anak untuk mengaji. Ia dibantu oleh beberapa orang yang dengan ikhlas menyempatkan waktunya menjadi guru ngaji demi menghidupkan masjid tersebut, termasuk menjadi Imam dalam setiap sholat.

Kini dengan berjalan waktu, kata Suparno, Masjid Bambu An-Nur sudah memiliki sekitar 70 jemaah tetap, dan telah mendapat perhatian dari pemerintah maupun institusi Polri yang ada di Provinsi Gorontalo.

(RL/Read)