Date:September 28, 2020

Peluncuran Desa Inovasi di Suku Polahi Gorontalo

Suku Polahi

READ.ID – Pemerintah luncurkan desa inovasi di Desa Tamaila Utara, Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo yang sejumlah penduduknya berasal dari keturunan suku Polahi.

Hal itu dilakukan pemerintah melalui peluncuran program 100 Desa Berinovasi yang digagas antara Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) dan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Desa Tamaila Utara adalah salah satu desa terisolasi dari dunia luar akibat minimnya akses internet, susahnya akses jalan, dan ketiadaan aliran listrik. Sejumlah warga yang merupakan keturunan suku polahi berada di dusun Tumba Desa Tamaila. Dusun Tumba sendiri dihuni dihuni 360 jiwa.

lokasi di desa tersebut sangat terpencil. Jaraknya sekitar 60 kilometer dari ibu kota Kabupaten Gorontalo. Wilayahnya ini bertengger di lereng Boliyohuto, yang punya ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.

Untuk sampai di Dusun Tumba, hanya bisa tembus dengan menggunakan motor atau berjalan kaki karena kondisi jalannya yang rusak, berlubang dan harus menyeberangi sungai-sungai kecil.

Walaupun tinggal di wilayah terpencil, penduduk desa Tamaila Utara berhasil menciptakan turbin yang mampu mengalirkan listrik melalui optimalisasi arus air yang minim, Pikohidro dengan dibawah binaan Universitas Negeri Gorontalo.

Ada tiga unit picrohydro yang dibangun di dusun itu. Pembangunan ini ditujukan untuk meningkatkan perekonomian daerah itu. Selain untuk penerangan daerah, pembangunan picrohydro juga dapat dimanfaatkan untuk mengolah hasil pertanian dan perkebunan yang ada di di dusun itu.

“Masyarakatnya mampu menciptkan aliran listrik, tanah di dusun Tumba sangat subur. Potensi alamnya melimpah. Ada jagung, kakao, kopi, pala, aren, cengkeh, kelapa, tebu, dan hutan perkayuan. Ada juga tiga air terjun. Semangat warganya untuk maju luar biasa,” kata Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo.

Melihat penduduknya inovatif dan potensinya yang melimpah, pemerintah menjadikan Desa Tamaila Utara menjadi salah satu dari 100 program desa berinovasi. Peluncuran desa berinovasi ini dilakukan oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin, secara daring (Online), pada Senin (10/08/2020) lalu.

Peluncuran desa berinovasi ini sebagai Puncak Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas).

Desa berinovasi merupakan program yang bertujuan untuk menggerakkan ekonomi dan menemukan peluang bisnis melalui penerapan teknologi untuk pengembangan produk unggulan. Selain itu, program ini juga bertujuan membangun keterampilan dan kompetensi masyarakat.

Pengembangan teknologi tepat guna dilakukan melalui 11 bidang usaha yakni pariwisata, hasil perkebunan, hasil pertanian, budidaya non pangan, pengolahan hasil perikanan, budidaya pangan, pengolahan hasil peternakan, pengolahan makanan dan minuman, kerajinan, dan pengolahan sampah.

Menurut Nelson, nantinya Dusun Tumba juga akan ditetapkan menjadi pusat pertanian organik.

“Hutan di sekitarnya kita jaga, agar air dan hasil pertanian di sini tetap terjaga kualitasnya,” katanya.

Mengenal Suku Polahi

Dari cerita yang berkembang turun temurun disebutkan, orang Polahi dalam bahasa Gorontalo berarti pelarian. Mereka merupakan keturunan Raja Panipi yang berkuasa di wilayah Batuda’a, yang saat ini sudah menjadi sebuah Kecamatan di Kabupaten Gorontalo. Pada sekitar abad ke-17, moyang mereka itu memilih lari dan mengasingkan diri ke dalam hutan. Itu merupakan aksi menolak peraturan dan penindasan yang diberlakukan VOC.

Salah satu keturunan Polahi yang paling tua dan sudah membaur dengan masyarakat, Tuli bercerita, saat dalam pelarian, mereka berhimpun bersama pelarian lain. Membentuk komunitas. Bergerilya dari hutan ke hutan.

Mereka berpindah tempat ketika ada anggota mereka yang meninggal. Menurut kepercayaan mereka, ketika sudah ada yang mati di satu tempat yang mereka singgahi, mereka harus segera pindah ke tempat lain. Karena tempat itu akan beroleh kutukan, yang akan membawa kesialan.

“Setiap singgah, kami membuka lahan dan bercocok tanam. Sagu adalah makanan utama kami. Lauknya, tergantung hasil buruan,” kata Tuli atau biasa disapa Nakiki.

Sewaktu masih di hutan, kata Nakiki yang tak mengetahui berapa usianya, kelompoknya hanya memanfaatkan tanaman sejenis daun woka sebagai pelindung kelamin. Rumah-rumah berdiri di atas tiang kayu dan beratap daun kering.

Mereka kawin dengan darah daging sendiri. Ayah bisa kawin dengan anak. Kakak bisa kawin dengan adik yang penting suka sama suka.

“Di hutan, tidak ada siapa-siapa selain kita sekeluarga. Terus kita kawin dengan siapa?” kata Nakiki.

(Read/UNG/Infopublik)