Date:January 22, 2021

Kronologi Lengkap Peristiwa Baku Hantam Versi Dosen dan Mahasiswa UNG

Dosen UNG

READ.ID – Peristiwa baku hantam antara oknum Dosen Fakultas Hukum (FH) dan alumni Mahasiswa Fakultas Teknik (FT), Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memiliki berbagai persepsi.

Dari pantauan awak media Read.id, adanya saling tuding dan menyalahkan satu sama lain antara kedua belah pihak.

Saling tuding itu terjadi antara Dosen FH Taufik Zulfikar dan oknum mahasiswa FT, Arbi Wilianto serta temannya Fahri Kamaru.

Oknum Dosen Fakultas Hukum itu mengaku sebagai korban, sementara di sisi lain kedua alumni mahasiswa Teknik itu juga mengaku sebagai korban.

Berdasarkan laporan Kepolisian Resor (Polres) Kota Gorontalo, Nomor: STTLP/65-b/XI/2020/SPKT/SEK-Kota Tengah, Arbi Wilianto, mengaku dirinya dan Fahri Kamaru adalah korban dari terduga pelaku, Taufik Zulfikar oknum dosen FH UNG.

Menurut keterangannya kepada penyidik, kejadian bermula sekitar pada Senin (30/11/2020) pukul 23.00 Wita.

Saat itu,  Arbi dan Fahri berboncengan mengendarai sepeda motor untuk mengunjungi Sekretariat Mapala Alaska di FT UNG.

Alumni Fakultas Teknik itu rencananya akan meninjau kesiapan acara orientering untuk pengambilan nomor urut anggota penuh Mapala Alaska.

Di depan kampus, mereka hampir bertabrakan dengan oknum dosen tersebut. Seketika Arbi menegur dengan suara keras, dan melanjutkan perjalanannya menuju Sekretariat Mapala Alaska di halaman belakang kampus UNG.

Saat berhenti di depan sekretariat, Arbi dan Fahri terkejut ada sosok yang tak dikenal berbadan kekar turun dari sepeda motor N-MAX.

Keduanya mengaku sosok tersebut hampir bertabrakan di depan kampus beberapa saat sebelumnya.

Begitu sampai, sosok ini langsung berteriak lantang. “Ngoni tidak tau pa kita? Kita Taufik, kita Dosen Hukum disini, cari kita di hukum,” jelas Taufik Zulfikar Sarson yang belakangan diketahui adalah oknum dosen Fakultas Hukum UNG .

Teriakannya yang keras membuat anggota Mapala Alaska yang sedang melakukan rapat langsung keluar ketakutan.

Mereka kaget, ada senior mereka yakni Arbi dan Fahri sedang bersitegang dengan oknum dosen UNG di depan sekretariat.

“Kami sempat melihat senior kami meminta maaf kepada oknum dosen tersebut, tapi kedua senior kami justru mereka mendapat pukulan keras di bagian kepala hingga kak Arbi langsung roboh seketika,” ungkap Ketua Mapala Alaska, Septiani Puti yang turut menyaksikan kejadian tersebut.

Melihat dosen yang sedang kalap menganiaya senior mereka, mereka berniat merespons dengan hendak membantu.

Namun, bantuan diurungkan karena kedua senior mereka langsung memerintahkan agar tak ikut campur dalam masalah itu.

“Torang pengurus mapala langsung dia suru maso ka sekret, jangan iko campur kata bukan ngoni pe urusan,” jelas Septiani.

Meski sudah memohon maaf berulang kali, oknum dosen tersebut justru mengambil senjata tumpul berupa knuckle (cincin tinju besi) dari motornya.

Dengan alat cincin tinju besi tersebut, secara membabi buta menyerang dua orang alumni Fakultas Teknik UNG itu.

Kata Septiani, seluruh anak-anak teknik yang berada di TKP, saat melerainya justru ditantang oleh oknum dosen tersebut.

Bahkan, dengan murkanya dia (dosen) mengatakan kalimat provokasi yang entah ditujukan kepada siapa.

“Dia bilang kita nyanda pake ngoni samua di sini, dan terus membabi-buta menganiaya kami,” ujar Arbi

Beberapa mahasiswa Fakultas Teknik yang berada di TKP  merasa tersinggung, hingga baku hantam tak terhindarkan lagi.

Mereka tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah merasa sempoyongan akibat hantaman senjata tumpul.

Menurut Arbi, mereka juga tak bisa mengingat lagi dengan jelas kejadian setelahnya.

“Kami justru kaget baca berita di sejumlah media online bahwa dia dikeroyok,” tutur Arbi.

Akibatnya sikap arogan oknum dosen tersebut, Arbi mendapat bogem mentah dua kali di pelipis kirinya serta pukulan keras di ubun-ubun dengan menggunakan Knuckle, hingga Arbi masih merasakan sakit di bagian kepala.

Arbi mengunkapkan hal yang sama juga dirasakan Fahri Kamaru. Bahkan, pipi kanan dan bahu kirinya terkena goresan Knuckles.

Keesokan harinya, Arbi langsung melaporkan oknum Dosen Hukum tersebut ke Polsek Kota Tengah.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Kota Tengah IPTU Tadjudin Mantali membenarkan sudah menerima laporan terkait penganiayaan tersebut.

“Ya, satu korban sudah kami ambil BAP Senin (30/11) oukul 18.00 semalam dan akan dilanjutkan dengan penyelidikan lanjutan mengingat oknum dosen juga mengaku sebagai korban pengeroyokan dan sudah melapor di Polres Gorontalo Kota,” ujarnya.

Sementara itu, menurut dosen Fakultas hukum UNG, Taufik Zulfikar mengaku, peristiwa pengeroyokan ini bermula saat dirinya tengah dalam perjalanan di Jalan Sudirman, Kota Gorontalo.

Saat itu, ia tengah mengendarai sepeda motor sendirian. Dari arah belakang, korban diteriaki oleh dua orang pengendara motor.

Karena kaget, dirinya mengejar para pelaku yang melaju ke dalam kampus UNG, tepatnya di lingkungan Gedung lama Fakultas Tehnik.

Ketika mendapati keduanya, Taufik memberikan nasehat kepada para mahasiswa itu dan akan melaporkan perlakuan itu kepada pihak kepolisian.

Dua orang itu yang menurut pengakuan adalah mahasiswa teknik sempat terlibat aksi baku pukul.

Menurut Taufik, hal itu terjadi, karena para mahasiswa itu tidak terima akan dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Saat aksi baku hantam, sempat juga datang sejumlah rekan dari kedua mahasiswa itu dan langsung menyerang dirinya.

“Saya diserang lebih dari 5 orang, ada juga yang sempat ambil batu, kejadiannya di depan sekretariat Mapala Tehnik UNG,” ujarnya.

Akibatnya, Taufik mengalami luka sobek di bagian kepala yang diduga akibat hantaman benda tumpul.

(SAS/RL/Read)