Date:November 26, 2020

Kota Gorontalo Jadi Percontohan Proyek Ketahanan Iklim

Proyek Ketahanan Iklim

READ.ID – Kota Gorontalo terpilih sebagai satu dari sepuluh kota percontohan Proyek CRIC (Climate Resilient and Inclusive Cities/Kota Berketahanan Iklim yang Inklusif) yang didanai oleh Uni Eropa.

Proyek tersebut untuk disiapkan dalam merumuskan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Kota yang dipilih akan mendapatkan dukungan teknis dan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas berskala internasional.

Sepuluh kota percontohan itu , yakni Pangkal Pinang, Pekanbaru, Bandar Lampung, Cirebon, Banjarmasin, Samarinda, Mataramg, Kupang, Ternate dan Gorontalo. Program cric merupakan kolaborasi antara UCLG ASPAC, dengan lembaga-lembaga di Eropa (Pilot4Dev, ACR, Ecolise, Universitas Gustave Eiffel) dan India (AIILSG). Proyek yang akan berlangsung dari 2020 hingga 2024 ini, turut menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan APEKSI selaku mitra strategisnya.

Koordinator Proyek CRIC, Putra Dwitama mengatakan bahwa ada enam kriteria yang menentukan pemilihan kota percontohan CRIC. Keenam kriteria tersebut adalah kota memiliki sumber daya untuk melaksanakan kegiatan, dukungan pemimpin daerah, kota yang mewakili zona iklim dan wilayah tertentu agar proyek dapat menerapkan pendekatan berbeda sesuai dengan karakterstik lokal, pelibatan Kelompok akademisi dan riset , tidak ada tumpang tindih dengan inisiatif/proyek lain serta peluang kemitraan dengan kota lain di Asia Tenggara dan Asia Selatan menjadi syarat program tersebut.

“Komitmen dari kepala daerah menjadi salah satu faktor kunci pemilihan kota percontohan. Mengingat ini proyek jangka panjang, diharapkan kota dapat berperan aktif melalui modalitas saat ini yang dimiliki dan memaksimalkan CRIC untuk perbaikan kualitas perencanaan iklim dan kebijakan, serta aksi nyata di tingkat tapak. Salah satu bentuk dukungannya seperti pembentukan kelompok kerja selaku penerima manfaat utama kegiatan, untuk mendorong koordinasi antar pemangku kepentingan yang lebih efektif,” ujar Putra.

Kepala Bapppeda Kota Gorontalo Meidy N. Silangen mengungkapkan, setelah terpilih kota percontohan akan menandatangani Komitmen bersama. Walikota yang menyatakan kesiapan terlibat aktif dalam seluruh kegiatan CRIC hingga 2024 akan difasilitasi dalam pembentukan Kelompok Kerja (Pokja). Pokja inilah yang akan menjadi wadah multipihak dan untuk merumuskan, melembagakan dan mengkoordinasikan kebijakan dan aksi untuk perubahan iklim di kota.

“Banyak manfaat yang akan diperoleh melalui Proyek CRIC. Pertama, adalah peningkatan kapasitas teknis bagi perangkat daerah. Setiap tahun, perwakilan kota akan mengikuti pelatihan berskala internasional. sejak bulan juli kemarin secara virtual, kita diundang sharing pada Perencanaan dan Pembangunan Kota yang Berkelanjutan” ucapnya.

Tidak hanya itu, Kota percontohan kata Meidy juga bakal mendapatkan akses pendanaan aksi untuk perubahan iklim. Kota yang telah menyusun Rencana Aksi untuk Perubahan Iklim akan dibantu untuk membuat proposal aksi yang dapat didanai. CRIC juga akan membantu menghubungkan kota dengan pihak-pihak lain yang tertarik mendanai aksi tersebut.

Menurutnya, keuntungan program cric dapat membangun akses jaringan internasional dengan menjalin kemitraan dengan kota-kota lain di Asia Tenggara, Asia Selatan dan Eropa. Kesempatan ini juga lanjut Meidy , dapat digunakan untuk mempromosikan praktik-praktik terkait tata kelola perubahan iklim dari Gorontalo ke tingkat nasional, regional hingga global. Sebaliknya, Kota Gorontalo juga dapat belajar tentang upaya dan praktik penanganan perubahan iklim yang telah diadopsi dan diuji di kota-kota lain.

“Fasilitas terhadap perangkat/teknologi untuk mengatasi tantangan terkait perubahan iklim di kota terkait polusi udara, pengelolaan limbah, air dan sanitasi, dan sistem peringatan dini juga disiapkan. dari empat perangkat itu kita dapat mengadopsi salah satunya” ujar Meidy.

Keterlibatan Gorontalo dalam CRIC turut berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan target pengurangan emisi gas rumah kaca Indonesia, sebagaimana tertuang dalam dokumen NDC (Nationally Determined Contribution).

(Adv/RL/Read)