Date:January 25, 2021

HUT RI, Suara Leni Husain di Hari Kemerdekaan

Oleh Apriyanto Radjak

Sebelum matahari meninggi. Perempuan itu selalu setia dengan pagi. Dengan sapu yang dijinjing mengitari halaman Fakultas Ekonomi. Setelah sepeda motornya terpakir rapi, dengan segera ia membersihkan sana sini.

Namanya Leni Husain. Usianya 32 tahun. Ia adalah satu dari sekian banyak cleaning service atau petugas kebersihan yang ada di Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Sudah tiga tahun profesi ini Leni jalani. Tugasnya membersihkan Fakultas Ekonomi, yang luasnya kira-kira separuh halaman sepakbola, dengan gedung berlantai tiga dan setiap gedung memiliki empat ruangan. Leni tidak sendiri, ia dibantu oleh dua orang teman lainnya.

Seperti biasa, pagi di awal Agustus 2019 itu, Leni membersihkan empat ruangan di gedung lantai satu. Sebelum para mahasiswa melangkahkan kaki ke ruangan, ia harus memastikan bilik-bilik kelas tempat calon intelektual menimba ilmu itu bersih dari berbagai macam kotoran. Usai membersihkan ruangan, Leni bergegas keluar. Halaman ia sapu dari samping hingga ke bagian belakang.

Hampir setiap saat, halaman belakang dan depan fakultas yang memiliki luas yang sama itu, tak pernah luput dari perhatiannya. Jika ada daun sehelai saja, Leni dengan cekatan segera menyapu.

“Saya itu paling benci melihat mahasiswa yang membuang sampah sembarangan. Padahal sudah ada tempat sampah,” kata Leni.

Ia semakin heran dengan ulah mahasiswa yang membuang jenis-jenis sampah itu secara sembarangan. Mulai dari puntung rokok, kertas tisu, dan sampah berbahan plastik lainnya. Meski sudah tugasnya adalah sebagai cleaning service, namun ia merasa aneh dengan calon-calon intelektual yang suka membuang sampah bukan pada tempatnya.

Leni Husain bekerja sebagai petugas kebersihan sejak tahun 2017. Sebelumnya ia adalah seorang ibu rumah tangga. Leni datang dari pulau seberang, tepatnya di Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Berbekal informasi dari sepupunya, ia mencoba peruntungan dengan merantau ke Gorontalo.

“Sepupu saya sudah lama tinggal di Gorontalo. Dia beri info bahwa ada pekerjaan sebagai cleaning service di UNG. Saya lalu mencoba melamar,” ungkap Leni.

Leni duduk di tangga fakultas sambil beristirahat. Tangan kirinya masih melakat dengan sapu. Dengan sedikit canggung, Leni menceritakan kisahnya. Sesekali ia memperbaiki letak jilbab. Keringat yang kadang datang tak diinginkan itu, ia usap dengan tangan kanannya.

“Saya melamar dengan modal KTP dan Kartu Keluarga, juga kekuatan fisik yang saya punya. Alhamdulillah, saya diterima sebagai cleaning service di sini.”

Kontrak Kerja

PT Pulo Esha Gasani adalah satu dari perusahaan yang fokus bergerak di bidang Cleaning Service di Gorontalo, dan mendapatkan tender dari kampus berjuluk merah maron itu. Leni Husain bernaung di bawah perusahaan PT Pulo Esha Gasani. Itu berarti perusahaan ini memiliki hak penuh untuk mengatur segala kontrak kerja Leni Husain dan para cleaning service lainnya di UNG.

Kontrak kerja itu antara lain; mereka harus bekerja mulai Senin hingga Sabtu dengan durasi waktu dari pukul 06.00 pagi sampai 17.00 sore Wita. Dengan demikian, Leni menghabiskan waktu: 9 jam 30 menit untuk membersihkan Fakultas Ekonomi.

“Kami istirahat mulai pukul 11.00 sampai 12.30. Kecuali hari jum’at, jam istirahat hingga pukul 13.00,” katanya.

Leni kemudian beranjak dari tangga. Ia segera berdiri dan bergegas ke belakang halaman fakultas. Kembali tangannya menggerakan sapu membersihkan dedaunan yang berserakan di tanah dan juga paving block. Dengan segala tugas membersihkan itu, Leni menjalani kewajiban yang sudah disepakati bersama dengan perusahaan.

“Saya harus apel pagi, lalu isi absen dengan sidik jari. Juga ada absen manual,” ujarnya sambil menyapu.

Namun, kewajiban mengisi absen itu ia lakukan sehari hingga empat kali. Baik absen sidik jari maupun absen manual. Bila sekali saja tidak sempat mengisi absen, maka setiap karyawan di PT Pulo Esha Gasani dikenakan denda Rp 15.000, dan akan dipotong pada upah mereka.

Tidak hanya itu, dalam kontrak kerja cleaning service; jika sehari tidak masuk kerja maka akan didenda Rp 60.000. Konsekuensinya sama, yaitu akan dipotong pada upah setiap karyawan tadi. terkecuali sedang sakit, maka aturan ini tidak akan berlaku. Namun dengan syarat harus menunjukkan surat keterangan sakit dari dokter. Sementara upah per bulan yang diberikan PT Polu Esha Gasani adalah Rp 1.550.000. Jika dihitung-hitung, berarti setiap karyawan dalam sehari itu kurang lebih dibayar oleh perusahaan Rp 52.000.

Saat sedang duduk beristirahat, tiba-tiba pengawasnya lewat. Leni kaget. Dengan sigap ia berdiri. Matanya seolah sedang mencari rerumputan yang barangkali harus ia bersihkan. Padahal semuanya sudah bersih. Ia khawatir sang pengawas akan memberi penilaian buruk terhadapnya.

“Pernah kejadian, teman saya diskorsing karena pengawas melihat ada sisa rumput dan teman saya itu dianggap lalai. Skorsingnya bisa sampai satu minggu,” ungkapnya dengan khawatir.

Pagi tadi, 17 Agustus 2019, ketika di beberapa tempat sedang mempersiapkan upacara pelaksanaan hari kemerdekaan, Leni tetap setia dengan tugasnya. Seperti biasa, ia membersihkan halaman fakultas dan membersihkan lantai ruangan gedung. Mengenakan kemeja dan jilbab merahnya, ia seolah menampakan kebahagiaan di hari kemerdekaan negara RI yang ke 74 ini.

Apa makna kemerdekaan bagi Leni Husain?

Leni awalnya enggan mengungkapkan pendapatnya. Disela-sela membersihkan halaman depan Fakultas Ekonomi, ia terlihat canggung. Tiba-tiba lagu “Indonesia Raya” berkumandang dari handphone salah seorang rekannya. Seolah memberi semangat, Leni dan kawannya itu ikut bernyanyi. Setelah itu, ia melanjutkan lagi menyapu halaman. Dahulu, semasa kecil di kampung, Leni turut merayakan kegembiraan 17 Agustus dengan mengikuti berbagai macam lomba.

Sekarang, di hari kemerdekaan RI, Leni Husain hanya berharap pekerjaannya sebagai cleaning service di kampus peradaban ini, bisa menambal kebutuhan hidupnya yang semakin dihimpit oleh ekonomi.

“Harapannya, gaji saya bisa naik sesuai dengan UMP,” katanya.

Upah Minum Provinsi (UMP) Gorontalo tahun 2019 saat ini sebesar Rp 2.384.020, atau naik 8,03 persen dari tahun 2018. Besaran kenaikannya merujuk pada surat edaran Kementerian Ketenagarkerjaan RI dan berlaku di seluruh Indonesia. Leni yang sudah memiliki anak laki-laki SD kelas 4 itu, berharap kenaikan upah itu berdampak pada pekerjaannya sebagai cleaning service di UNG.

“Suami saya hanya seorang sopir pengantar ikan. Hidup kami pas-pasan. Tinggal di kost, dan harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sana-sini,” cerita Leni.

Meski demikian, di tengah himpitan hidup itu, Leni tetap tak patah arang. Bahkan untuk beban ganda yang ia emban: sebagai ibu rumah tangga mengurus anak dan suaminya; hingga membersihkan halaman dan gedung Fakultas, sebelum calon-calon intelektual di Universitas Negeri Gorontalo itu menimba ilmu pengetahuannya.

Jam menunjukan 11.00. Leni segera mengunci ruangan perkuliahan. Tanggal merah di hari kemerdekaan ini, Leni bekerja setengah hari. Kakinya melangkah ke tempat parkir. Dengan segera ia menaiki motor, seolah tak sabar menemui anaknya di rumah. Temannya pergi lebih awal. Dengan cepat ia segera menyusul. Pulang. Pagi berikut, rumput-rumput di halaman Fakultas Ekonomi sudah siap menunggunya.